FIFA Ingin Liga-liga Memakai Akal Sehat Dalam Menyikapi Protes Kematian George Floyd

sebagai badan otoritas sepak bola …

[vc_row css=”.vc_custom_1586099651999{background-color: #ffffff !important;}” el_class=”post-row”][vc_column width=”4/6″][vc_row_inner el_class=”post-header”][vc_column_inner][vc_column_text el_class=”post-category”]International[/vc_column_text][vc_text_separator title=”FIFA Ingin Liga-liga Memakai Akal Sehat Dalam Menyikapi Protes Kematian George Floyd” title_align=”separator_align_left” el_class=”post-title”][vc_column_text el_class=”post-date”]3 Juni 2020[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_row_inner][vc_column_inner el_class=”post-image-col”][vc_single_image source=”featured_image” img_size=”full”][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_column_text el_class=”post-content”]Wartabola.id – Dilansir dari The World Game Australia, sebagai badan otoritas sepak bola tertinggi dunia, FIFA ingin liga-liga sepak bola memakai akal sehat mereka dalam menyikapi dan memberi hukuman atas aksi protes atas kematian George Floyd dalam sebuah pertandingan.

Gerakan protes atas George Floyd tersebut bermunculan di dunia sepak bola sebagai bentuk dukungan para pemain sepak bola akan tewasnya warga Amerika Serikat berkulit hitam, George Floyd dalam penahanan kepolisian di Minneapolis, serta memicu berbagai aksi demonstrasi dan kerusuhan di Amerika Serikat.

Beberapa contoh protes tersebut dilakukan oleh duo pemain Borussia Dortmund, Jadon Sancho dan Achraf Hakimi yang menampilkan tulisan “Justice for George Floyd” di baju dalamnya ketika mealwan Paderborn pada hari Minggu lalu, Weston McKennie dari Schalke 04 yang memakai band kapten bertuliskan hal yang sama, serta Marcus Thuram dari  Borussia Munchengladbach yang berlutut sebagai bentuk selebrasi gol melawan Union Berlin. Atas kejadian tersebut, Sancho diberi kartu kuning karena melepaskan seragam, sedangkan Hakimi, McKennie, dan Thuram tidak dijatuhi hukuman.

Mengingat liga-liga besar yang akan dimulai kembali, FIFA meminta penyelenggara liga memperhatikan konteks yang ada dalam menjalankan peraturannya. Dalam sebuah pernyataan, FIFA menyatakan, “FIFA memahami sentimen yang begitu dalam dan kekhawatiran yang ditunjukkan oleh para pesepakbola terkait kejadian tragis yang menimpa George Floyd.”

“FIFA telah berulang kali menunjukkan sikap keras terhadap rasisme dan diskriminasi dalam bentuk apapun dan telah memperkuat peraturan disipliner untuk menghapuskan perbuatan tersebut.”

“FIFA telah mempromosikan kampanye antirasisme yang membawa pesan antirasisme itu sendiri kepada dalam pertandingan-pertandingan sepak bola di bawah pengawasannya.”

“Pengaplikasian dari Peraturan Pertandingan yang disetujui oleh International Football Association Board (IFAB) berada di tangan para penyelenggara kompetisi agar memakai akal sehat dan memahami konteks yang terjadi dalam kejadian-kejadian tersebut.”

Terkait hal tersebut, Direktur Olah Raga Wasit dari Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), Michael Frohlich mengatakan bawa sulit bagi para wasit untuk memberikan hukuman tegas jika ada pesan, gambar, slogan yang bersifat politik atau agama dalam pertandingan. Jikalau hal tersebut terjadi, maka wasit tersebut hanya menuliskannya dalam laporan pertandingan. Hal ini terkecuali bagi tindakan yang mempengaruhi langsung pertandingan seperti buang-buang waktu. Jika hal ini terjadi maka wasit dapat memberikan kartu kuning.[/vc_column_text][/vc_column][vc_column width=”2/6″][vc_widget_sidebar sidebar_id=”cs-1″][/vc_column][/vc_row]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *